Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2013

Teruntuk Anak-anakku, Nanti..

Dear anak-anakku.. Ini adalah surat pertamaku untuk kalian, sang pemimpin masa depan. Anakku, taukah kamu bahwa ibu sudah mencintai kalian sejak beberapa tahun sebelum ibu memiliki kalian. Bahkan jauh sebelum ibu menikah. Sebelum ibu menemukan siapa ayah kalian. Sebelum ibu mencintainya dan rela dipersunting olehnya. Mungkin kalian berpikir ibu-mu sedang mengobral gombal. Tapi tidak. A nakku.. Ibu hanya ingin kalian tau bahwa ibu ingin kalian berasal dari benih orang baik, yang bisa mendidikmu dengan baik pula. Tak hanya sikapnya, tapi juga rupanya. Maka dari itu, kini ibu sedang berusaha menyeleksi mereka, ya nak.. Ibu mau pria yang kau panggil “ayah” nantinya adalah orang yang bisa mengenalkanmu pada dunia dan Tuhan. Memelukmu erat di saat kamu melakukan hal yang sering ibumu lakukan –ngambek. Bercanda gurau denganmu saat kau masih belum bisa melakukan apapun selain menangis dan tertawa. Menegurmu lembut tanpa pukulan dan cubitan saat kau bertingkah nakal. Sabar-sabar y...

Mediaku, Kampanyeku..

Saya tidak bisa membayangkan siapa yang akan memenangkan ‘pesta demokrasi’ tahun depan. Saya apit istilah pesta demokrasi itu dalam tanda kutip karena saya rasa pemilihan umum itu memang bukan sebuah pesta. Pesta apa yang isinya orang-orang bertarung dengan menggunakan berbagai cara? Mulai dari suap uang dan barang, suap aspal, bahkan pakai klenik-klenik- an. Jika isinya seperti ini saya yakin ini bukan pesta, melainkan sasana.  Dan yang menyeramkan, sasana ini harus kita hadapi setiap 5 tahun sekali. Pemenangnya pun kemungkinan bukan yang terbaik, melainkan yang buruk tapi 'cerdik'.  Sebelum tanding juga sudah bisa kau lihat siapa yang lebih 'cerdik'. Contohnya?  Yang punya media. Waktu kampanye belum mulai dia sudah mejang-mejeng di layar kaca. Tak ada yang salah memang. Kalau kata Adiguna "wong rumah saya sendiri mau saya tabrak, mau saya bakar juga terserah saya. Rumah saya". Dalam kasus beliau, pernyataan itu benar. Tapi dalam kasus pasangan capres yang p...

Annisa, Apa Kabar?

Anaknya dalam kondisi kritis, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa lagi selain guyon dan bercerita. Selamat malam. Kamu yang ditakdirkan Tuhan untuk membaca tulisan ini. Seperti saya yang tadi sore ditakdirkan Tuhan untuk bertemu Ayahnya Annisa. ==== "Janjiannya bukannya jam 4? Kok jam 4 baru berangkat? Telat loh...," kata Produser gue, sebelum gue cabut dari kantor untuk menyambangi Trax FM. Tak lain dan tak bukan karena paksaan Tugas Karya Akhir gue yang (di H-12 ini) masih setengah jalan. Singkat pikiran, gue mutusin untuk naik taksi aja dari Utan Kayu. Kayaknya kalau jam segini ke Sarinah belum terlalu macet. Pikir gue. Keluar kantor, ada tiga taksi yang sedang melaju dari sisi kiri. Tapi jari kanan gue bergoyang di udara pada taksi kedua. Kenapa? Karena bapaknya gak sombong. Doi buka kaca buat nanya gue mau naik apa nggak. Belakangan gue baru tahu kalau doi buka kaca karena lagi ngerokok. Kampred. Begitu masuk gue langsung nepsong bilang "Sarinah, pak!" *panik kar...

Kerja itu CUMA selingan.

Gambar
Akhir-akhir ini saya terngiang dengan kata-kata di bawa ini: "Kerja itu cuma selingan untuk menunggu waktu shalat.  Jika kita sekuat tenaga menghilangkan setiap hambatan untuk bertemu Allah tepat waktu, maka Allah akan menghilangkan setiap hambatan yang menghalangi kesuksesan kehidupan kita". *sigh* Kalimat ini menampar gue, men.  Kalau dipikir-pikir buat apa manusia diciptakan dan dibiarkan hidup? Tentunya bukan hanya untuk mencari uang, apalagi menghambur-hamburkannya. Gue juga ga pingin berkhotbah, cuma mau menyebarkan dan mengingatkan kamu, wahai saudaraku.  So, sesibuk apapun kamu, yuk tinggal dulu, kita ambil wudhu... === Malam jumat,  Kopi Oey, Thamrin. 8.27 pm.